Sifat Asli Ibu Tiri Nizam Syafei Dibongkar! Kerja di Depag tapi Perempuan Tidak Baik
Sosok ibu tiri Nizam Syafei (12) yang kini menjadi tersangka dugaan penganiayaan berujung kematian Nizam Syafei remaja Sukabumi terus menjadi sorotan.
Ayah kandung Nizam, Anwar Satibi, dalam podcast bersama Denny Sumargo mengungkapkan fakta mengejutkan tentang sifat asli istrinya yang bekerja di lingkungan Departemen Agama (Depag) namun ternyata memiliki masa lalu yang tidak baik.
Pengakuan Anwar ini mengungkap jejak kekerasan dalam rumah tangga yang sudah berlangsung lama dan melibatkan ibu tiri Nizam sebagai aktor utamanya.
Baca Juga: Ayah Nizam Kenang Momen Mengejutkan Dokter Perempuan Sebut Nizam Dianiaya
Background Agama tapi Punya Masa Lalu Kurang Baik
Anwar dengan jujur mengakui bahwa sebenarnya ia sudah mengetahui karakter istrinya sebelum memutuskan menikah. Perempuan yang bekerja di lingkungan Departemen Agama dengan latar belakang pendidikan agama ternyata menyimpan sisi gelap yang tidak terlihat dari luar.
Baca Juga: Ibu Tiri Nizam Syafei Kepergok Berduaan di Kamar dengan Anak Angkat Keturunan Arab
"Istri saya itu tipikal perempuan yang tidak baik. Sebelum nikah sama saya, saya jujur bukan membuka aib. Mohon maaf udah sering, udah, udah begitulah," ungkap Anwar dalam podcast tersebut tanpa menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan "tidak baik".
Meski mengetahui hal tersebut, Anwar tetap memutuskan menikahi perempuan itu. Keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan, melainkan atas saran dari ayah angkatnya yang melihat sisi positif calon istri dari segi finansial.
Alasan Menikahi Perempuan Berstatus Janda
Ibu tiri Nizam Syafei dan ayah kandung Nizam, Anwar Satibi. [TikTok]
Dalam pengakuannya, Anwar menjelaskan bahwa istrinya saat ini adalah seorang janda. Sebelum menikah dengannya, perempuan itu pernah menikah dengan seorang anggota kepolisian.
"Saya nanya ke ayah, justru ini saya berharap untuk kebaikan anak saya yang lebih baik. Gitu kata ayah waktu itu. 'Jang, kalau ayah lihat, Bu Teni lah kalau Ujang mau rumah tangga serius. Dia sudah dewasa. Terus sekalipun Ujang enggak ada kerja, misal lagi nganggur, dia udah kerja enggak terlalu memberatkan ke suami katanya kan gitu'," kenang Anwar menirukan nasihat ayah angkatnya.
Harapan Anwar saat itu adalah karena melihat istrinya sebagai perempuan berpendidikan, ia bisa mendidik anaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Namun kenyataan berkata lain.
"Pada nyatanya, saya jangankan gajinya, struk gajinya pun saya enggak tahu. Demi Allah Rasulullah pada nyatanya ya," ujar Anwar.
Anwar mengaku sempat terbuai dengan perlakuan istrinya sebelum menikah. Perempuan itu menunjukkan perhatian besar kepada Nizam, anak semata wayang Anwar dari pernikahan sebelumnya.
"Dan akhirnya saya memutuskan menikahi orang itu karena memang perlakuan dia pun sangat perhatian waktu itu, Bang. Baik, baik, baik. Jadi waktu itu ke si Raja beli tas, beli buku, beli seragam anak saya sebelum dinikahin," ungkap Anwar.
Perhatian yang ditunjukkan sebelum menikah itu rupanya hanya kamuflase. Setelah resmi menjadi istri, sifat asli mulai tampak. Nizam yang awalnya diperlakukan dengan baik justru menjadi sasaran kekerasan.
Bekerja di Lingkungan Departemen Agama
Fakta bahwa ibu tiri Nizam bekerja di lingkungan Departemen Agama (Depag) menjadi sorotan tersendiri. Institusi yang identik dengan nilai-nilai keagamaan dan moralitas ini ternyata mempekerjakan seseorang yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap anak.
"Sekalipun dia di Depag, di Departemen Agama kerjanya, basicnya background-nya di agama. Saya tahu karena saya yang menjalani ini semua," tegas Anwar.
Ironisnya, meski bekerja di instansi yang mengurusi masalah keagamaan, perilaku sehari-hari istrinya jauh dari nilai-nilai agama yang seharusnya dijunjung.
Sikap Istri yang Membela Anak Angkat
Anwar Satibi ayah Nizam Syafei di podcast Denny Sumargo. [Youtube]
Selain masa lalu yang tidak baik, Anwar juga mengungkapkan kejanggalan lain dalam sikap istrinya. Perempuan itu dinilai terlalu membela anak angkatnya yang berdarah Arab, sementara Nizam selalu menjadi korban.
"Jadi, pantesan selama ini kalau dia berantem sama anak saya, membelanya benar-benar. Oh, ada indikasi pemikiran saya jadi bisa ke sana. Dugaannya jadi ke mana-mana gitu," ungkap Anwar.
Anak angkat tersebut, yang kini berusia kelas 3 SMA, disebut memiliki rekam jejak buruk mulai dari mencuri handphone, mencuri motor, mabuk, hingga menyimpan film-film dewasa di ponselnya. Meski demikian, ibu tiri Nizam selalu membela remaja tersebut setiap kali terjadi konflik dengan Nizam.
Laporan Kekerasan Setahun Lalu Berakhir Damai
Anwar juga mengungkapkan bahwa setahun sebelum kematian Nizam, ia pernah melaporkan istrinya ke polisi terkait tindak kekerasan terhadap anaknya. Saat itu, Nizam disiksa oleh anak angkatnya menggunakan kayu hingga babak belur.
"Itu pun gara-gara berantem sama anak itu. Anak angkatnya. Pas mau sekolah dibonceng. Jadi bukan di rumah, di sisinya, Bang. Ada pemakaman terus ada jalan ke arah sana dibawa ke situ ke tempat yang jauh ke mana-mana. Di situlah disiksanya anak saya. Pakai kayu. Menurut pengakuan anak saya pakai kayu. Oh, badannya lebam-lebam semua," kenang Anwar.
Laporan tersebut akhirnya berakhir dengan mediasi setelah istrinya bersumpah akan bertobat.
"Dia sujud ke saya jangan lapor, mama mau tobat," ujar Anwar.
Namun janji tobat itu hanya berlangsung sementara. Setahun kemudian, tragedi yang lebih mengerikan menimpa Nizam hingga meregang nyawa.