Kebakaran Gedung Terra Drone Jakarta Dikaitkan Dengan Banjir Sumatra, Benarkah?
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah teori konspirasi yang mengaitkan dua peristiwa besar di lokasi berbeda.
Kebakaran hebat yang melanda gedung Terra Drone di Jakarta kini disebut-sebut memiliki benang merah dengan bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Sumatra baru-baru ini.
Narasi yang beredar luas melalui video viral dari akun Bigeru ini memicu spekulasi liar di kalangan netizen.
Baca Juga: Biodata dan Agama Dirut Terra Drone, Michael Wishnu Wardana Tersangka Tragedi Kebakaran Jakarta
Publik kini menyoroti kemungkinan adanya unsur kesengajaan di balik insiden kebakaran tersebut, yang diduga berkaitan erat dengan data sensitif mengenai pengelolaan lahan dan hutan di Indonesia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari video viral tersebut, kecurigaan bermula dari peran krusial Terra Drone. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu penyedia layanan drone terbesar di dunia yang memegang peran strategis dalam pemetaan lahan di Indonesia, termasuk di wilayah Sumatra.
Baca Juga: Streamer Hina Suku Sunda, Sule Skakmat Resbob 'Mulut Lo Lebih Najis dari Anjing!'
Dalam narasi video, disebutkan bahwa Terra Drone melakukan pemetaan dan pengelolaan lahan sawit di Sumatra. Tidak main-main, mereka diklaim memegang data detail seluas 600.000 hektare lahan.
Data ini mencakup informasi visual mengenai potensi penebangan liar dan penggundulan hutan yang selama ini sulit terjangkau pantauan darat.
Terra Drone Ekspansi Ke Sektor Pertanian Sawit [Doc-sawitindonesia.com]
Dugaan semakin meruncing ketika video tersebut menyoroti kondisi pasca-banjir di Sumatra. Banjir bandang tersebut tidak hanya membawa air, tetapi juga tumpukan material kayu gelondongan yang diduga kuat merupakan hasil dari aktivitas penebangan ilegal atau illegal logging di hulu sungai.
Di tengah sorotan publik terhadap asal-usul kayu-kayu penyebab banjir tersebut, insiden kebakaran justru terjadi di kantor Terra Drone di Jakarta.
Video tersebut secara tegas menyebutkan kejanggalan timing atau waktu kejadian antara bencana banjir yang mengungkap sisa penebangan dengan terbakarnya gedung penyimpan data.
"Artinya apa? Mereka punya data yang bisa membongkar para mafia sawit," ujar narator dalam video tersebut.
Pernyataan ini seolah menjadi pemantik diskusi panas di kolom komentar media sosial, mengarahkan opini publik pada dugaan upaya penghilangan barang bukti.
Narasi video semakin dramatis dengan klaim bahwa seluruh data penting, termasuk peta digital lahan dan catatan aktivitas ilegal yang terekam oleh drone, tersimpan di dalam gedung yang kini hangus tersebut. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini murni musibah atau sabotase terencana?
Teori ini lantas disambut dengan skeptisisme tinggi dari para netizen. Banyak yang merasa bahwa pola kejadian ini menyerupai plot film aksi, di mana kebakaran digunakan sebagai metode paling efektif untuk menghapus jejak digital dan fisik sekaligus.
Dokumentasi Banjir Sumatera [Doc-ums.ac.id]
Komentar-komentar kritis pun bermunculan menanggapi video tersebut. Salah satu netizen dengan akun anonim berkomentar tajam.
"Rela ngorbanin banyak orang demi nutupin belang mereka," ujar salah satu akun.
Senada dengan hal tersebut, netizen lain menambahkan analisis hukum sederhananya.
"Patut diduga untuk menghilangkan barang bukti," tulisnya.
"Ooo begitu... Info yang bagus nih," tambah yang lain.
Terlepas dari spekulasi yang berkembang, Terra Drone sendiri memang memiliki reputasi global dalam teknologi survei udara. Teknologi mereka mampu memindai topografi hutan dengan sangat presisi, yang secara teknis memang bisa dijadikan alat bukti untuk melihat perubahan fungsi lahan dari waktu ke waktu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemadam kebakaran yang secara spesifik mengaitkan penyebab kebakaran dengan sabotase data. Penyelidikan mengenai penyebab pasti kebakaran gedung tersebut masih menjadi ranah otoritas berwenang.