Gosip

Denny Sumargo Bongkar Tren 'Whip Pink', Dokter Peringatkan Risiko Kelumpuhan

28 Januari 2026 | 21:10 WIB
Denny Sumargo Bongkar Tren 'Whip Pink', Dokter Peringatkan Risiko Kelumpuhan
Denny Sumargo mengangkat isu kesehatan masyarakat terkait maraknya penggunaan Whip Pink [Sumber: Youtube]

Denny Sumargo mengangkat isu kesehatan masyarakat terkait maraknya penggunaan gas Nitrous Oxide (N2O) atau yang populer disebut "Whip Pink" serta rokok elektrik (vape) dalam tayangan terbaru di kanal YouTube-nya. Diskusi ini menghadirkan perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN), tenaga medis, dan mantan pengguna untuk membedah risiko fatal di balik tren tersebut.

rb-1

Video yang diunggah pada Selasa (28/1/2026) tersebut menghadirkan Brigjen Pol. Suprianto dari BNN, Dokter Spesialis Paru dr. Samuel, investigator produk viral bernama Doktif, serta seorang mantan pengguna bernama Doni. Fokus utama pembicaraan adalah penyalahgunaan bahan legal menjadi zat adiktif yang membahayakan nyawa.

Doktif, yang melakukan investigasi independen, memaparkan temuannya terkait peredaran bebas tabung gas N2O di lokapasar daring. Ia menyoroti kejanggalan pada pemasaran produk yang seharusnya digunakan untuk keperluan dapur tersebut. Menurutnya, visualisasi produk sengaja dibuat menarik dengan ilustrasi yang tidak berhubungan dengan makanan.

Baca Juga: Kematian Lula Lahfah Dikaitkan dengan Whip Pink atau Gas Tawa, Ini Kata Polisi

rb-2

"Di web-nya itu ada gambar seperti astronaut. Apa hubungannya antara whip atau cake dengan astronaut? Astronaut itu kan orangnya terbang," ujar Doktif.

Lebih lanjut, Doktif menjelaskan bahwa paket pembelian produk tersebut menyertakan alat tambahan yang mencurigakan. Ia menemukan adanya nozzle atau corong yang disertakan, yang menurutnya tidak lazim digunakan dalam pembuatan kue profesional yang biasanya menggunakan dispenser bertekanan khusus.

Baca Juga: Apa Itu Whip Pink? Gas Tawa yang Dikaitkan Dengan Meninggalnya Lula Lahfah

"Disertakan dengan (nozzle) ini. Seharusnya kalau buat cake, chef atau restoran itu kan dia punya alat sendiri. Enggak akan mungkin dong ini jadi whip cream," tambah Doktif.

Doni, selaku mantan pengguna yang dihadirkan dalam forum tersebut, memvalidasi dugaan penyalahgunaan itu. Ia menceritakan pengalamannya pertama kali mengenal barang tersebut dari lingkungan pertemanannya. Doni mengaku awalnya tergiur karena klaim efek yang menyenangkan.

"Teman saya bilang, 'Barang ini enak lho'. Efeknya gila bang, halusinasi yang tinggi, badan lemas semua, kepala pusing," ungkap Doni.

Whip Pink [Sumber: Instagram]Whip Pink [Sumber: Instagram]

Namun, efek euforia sesaat itu berdampak buruk pada kondisi psikis dan fisik Doni. Ia mengaku mengalami ketidakstabilan emosi yang parah setelah penggunaan rutin, yang bahkan nyaris menghancurkan kehidupan pribadinya.

"Bawaannya cepat naik emosinya. Ribut terus akhirnya mau cerai," kata Doni.

Dari sudut pandang medis, dr. Samuel menjelaskan mekanisme berbahaya gas N2O saat masuk ke tubuh manusia. Menurutnya, gas tersebut memiliki kemampuan mendesak oksigen di dalam darah, menyebabkan kondisi kekurangan oksigen atau hipoksia yang disalahartikan pengguna sebagai sensasi "fly".

"Begitu kehirup, dari paru-paru langsung masuk ke darah lebih cepat daripada oksigen. Sehingga oksigen bisa ketinggalan, pasiennya bisa jatuh dalam hipoksia," jelas dr. Samuel.

Dr. Samuel memberikan peringatan keras mengenai risiko jangka panjang yang mengintai pengguna, yakni kerusakan saraf permanen. Gas N2O diketahui dapat mengganggu fungsi Vitamin B12 yang krusial untuk kesehatan saraf, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelumpuhan.

"Dia (N2O) akan mengganggu pembentukan selubung saraf. Efeknya itu seperti kesemutan awal-awalnya, lama-lama bisa lemah satu badannya seperti orang lumpuh," tegas dr. Samuel.

Selain membahas gas N2O, diskusi juga menyoroti bahaya vape. BNN, melalui Brigjen Suprianto, mengungkapkan fakta bahwa rokok elektrik kini menjadi media favorit baru bagi para pengedar untuk menyelundupkan narkotika dalam bentuk cair.

"Hasil penyelidikan BNN ini sangat mengkhawatirkan karena hampir setiap tangkapan selalu positif vape itu di dalamnya ada narkoba," ujar Brigjen Suprianto.

Denny Sumargo Mengangkat Isu Kesehatan Masyarakat Terkait Maraknya Penggunaan Whip Pink [Sumber: Youtube]Denny Sumargo Mengangkat Isu Kesehatan Masyarakat Terkait Maraknya Penggunaan Whip Pink [Sumber: Youtube]

Ia juga menyebutkan adanya jenis zat baru yang patut diwaspadai, yakni Etomidate. Zat yang sejatinya adalah obat bius ini telah disalahgunakan dalam cairan vape dan kini telah masuk dalam regulasi ketat.

"Etomidate ini jelas zat anestesi. Tahun 2025 yang lalu sudah dimasukkan golongan narkotika. Sehingga siapa pun yang menggunakan Etomidate pasti kena undang-undang narkotika," tambah Brigjen Suprianto.

Menanggapi bahaya vape, dr. Samuel menambahkan risiko penyakit paru-paru serius yang disebut Bronchiolitis Obliterans atau "Popcorn Lung". Kerusakan ini terjadi pada kantung udara paru-paru akibat zat kimia perasa yang dipanaskan dan dihirup.

"Alveoli yang menggerombol seperti buah anggur itu kalau terkena zat iritan dia akan jadi pecah. Akhirnya kita bilangnya Bronchiolitis Obliterans, atau secara awamnya Popcorn Lung," jelas dr. Samuel.

Meskipun gas N2O belum masuk dalam golongan narkotika, Brigjen Suprianto menegaskan bahwa BNN terus melakukan upaya edukasi. Sementara untuk vape, BNN tengah mengkaji rekomendasi pelarangan total atau regulasi yang sangat ketat kepada pemerintah.

Denny Sumargo menutup diskusi dengan pesan kepada masyarakat agar tidak menyepelekan informasi medis dan hukum tersebut. Ia berharap tayangan ini dapat meningkatkan kewaspadaan orang tua terhadap barang-barang yang dikonsumsi anggota keluarganya.

Tag Whip Pink Denny Sumargo Gas N2O Bahaya Vape BNN