Gosip

Biodata dan Agama Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Gugur Dibom AS dan Israel

01 Maret 2026 | 14:29 WIB
Biodata dan Agama Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Gugur Dibom AS dan Israel
Ayatollah Ali Khamenei. [TikTok]

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gugur sebagai syahid pada Sabtu (28/22026) pagi waktu setempat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan ibu kota Teheran.

rb-1

Televisi nasional Iran mengkonfirmasi bahwa Khamenei tewas di kantornya akibat serangan rudal tersebut.

Serangan yang dilancarkan pada Sabtu pagi itu tidak hanya menewaskan pemimpin tertinggi Iran, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa dari kalangan rakyat sipil.

Baca Juga: Meninggal Dunia saat Tidur karena Kanker Ginjal, Ini Profil Brad Arnold Vokalis 3 Doors Down

rb-2

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Menyusul peristiwa tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani mengumumkan bahwa Majelis Ahli akan segera bersidang untuk memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi yang baru, sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran.

Baca Juga: Bak Anak dan Bapak Kandung, Intip Kekompakan Ahmad Dhani dan Tiara saat Masak Bareng

Larijani juga menegaskan bahwa Iran tidak berniat menyerang negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah, dan hanya akan menargetkan pangkalan militer AS.

Biodata dan Profil Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei. [TikTok]Ayatollah Ali Khamenei. [TikTok]

Informasi Detail
Nama Lengkap Ali Hosseini Khamenei
Agama Syiah Dua Belas Imam
Tanggal Lahir 19 April 1939
Tempat Lahir Mashhad, Iran
Tanggal Wafat 28 Februari 2026
Tempat Wafat Teheran, Iran
Kebangsaan Iran
Orang Tua Javad Khamenei (Ayah), Khadijeh Mirdamadi (Ibu)
Jabatan Pemimpin Tertinggi Iran (1989-2026), Presiden Iran (1981-1989)
Masa Jabatan 36 tahun 6 bulan (sebagai Pemimpin Tertinggi)
Status Menikah, memiliki 4 putra dan 2 putri

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran, dari keluarga religius. Ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama dan mujtahid yang lahir di Najaf, Irak.

Ibunya, Khadijeh Mirdamadi, berasal dari keluarga terhormat di Yazd. Khamenei adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dua saudara laki-lakinya juga menjadi ulama, termasuk Hadi Khamenei yang kemudian dikenal sebagai editor surat kabar.

Dari sisi ayah, Khamenei berasal dari etnis Azerbaijan Turki dari Khamaneh, sementara dari sisi ibu ia merupakan etnis Persia dari Yazd. Nenek moyangnya diketahui berasal dari Tafresh di Provinsi Markazi sebelum bermigrasi ke Khamaneh dekat Tabriz.

Pendidikan Khamenei dimulai sejak usia empat tahun dengan mempelajari Al-Quran di Maktab. Ia menempuh pendidikan dasar dan lanjutan di seminari (hawza) Mashhad di bawah bimbingan Syekh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani.

Pada tahun 1958, ia pindah ke Qom untuk melanjutkan studi dan menghadiri kelas-kelas yang diasuh oleh Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi tokoh utama Revolusi Iran.

Karier Politik Awal

Ayatollah Ali Khamenei. [TikTok]Ayatollah Ali Khamenei. [TikTok]

Sebagai tokoh oposisi terhadap rezim Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei ditangkap sebanyak enam kali dan akhirnya diasingkan selama tiga tahun oleh rezim Shah.

Ia menjadi figur kunci dalam Revolusi Iran 1978-1979 dan merupakan salah satu kepercayaan dekat Ruhollah Khomeini.

Setelah revolusi berhasil, Khamenei menduduki berbagai posisi pemerintahan:

  • Kepala pengurus Astan Quds Razavi (14 April 1979)

  • Wakil Menteri Pertahanan (Juli-November 1979)

  • Pengawas Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC)

  • Imam shalat Jumat Teheran (1980, ditunjuk oleh Khomeini)

Upaya Pembunuhan 1981

Pada 27 Juni 1981, Khamenei selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Mujahedin-e Khalq.

Sebuah bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak di dekatnya saat ia sedang memberikan ceramah di Masjid Aboozar. Bom tersebut bertuliskan "Hadiah dari Kelompok Furqan untuk Republik Islam."

Akibat ledakan ini, Khamenei mengalami cedera permanen pada lengan kanannya yang lumpuh, serta cedera serius pada pita suara dan paru-parunya.

Perawatannya memakan waktu berbulan-bulan, dan sejak saat itu ia dikenal selalu berjabat tangan dengan tangan kiri.

Masa Kepresidenan (1981-1989)

Setelah pembunuhan Presiden Mohammad-Ali Rajai, Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran pada Oktober 1981 dengan perolehan suara 97%.

Ia menjadi ulama pertama yang menduduki jabatan kepresidenan, meskipun awalnya Khomeini ingin menjaga ulama dari posisi ini. Khamenei kembali terpilih untuk masa jabatan kedua pada tahun 1985 dengan perolehan 87% suara.

Selama masa kepresidenannya, yang bertepatan dengan Perang Iran-Irak (1980-1988), Khamenei mengembangkan hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan dikenal sangat memperhatikan detail militer, anggaran, dan administrasi.

Pada tahun 1982, ia termasuk salah satu penentang keputusan untuk melakukan invasi balasan ke Irak setelah pasukan Irak berhasil diusir dari wilayah Iran.

Menjadi Pemimpin Tertinggi (1989-2026)

Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini pada 4 Juni 1989, Majelis Ahli memilih Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Namun, karena Khamenei saat itu belum memiliki gelar Ayatollah (baru Hujjat al-Islam), konstitusi harus diubah untuk memungkinkannya menduduki posisi tersebut. Keputusan ini ditentang oleh beberapa grand ayatollah terkemuka.

Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei memegang kekuasaan tertinggi di Iran selama 36 tahun enam bulan, menjadikannya pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di Timur Tengah pada saat wafatnya, serta pemimpin Iran terlama sejak Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Kebijakan Domestik dan Ekonomi

Di bidang ekonomi, Khamenei mendukung privatisasi industri milik negara dan memanfaatkan cadangan minyak dan gas untuk mengubah Iran menjadi "energy superpower". Namun, masa kepemimpinannya juga diwarnai berbagai gelombang protes besar, termasuk:

  • Protes mahasiswa 1999

  • Protes pemilihan presiden 2009

  • Protes 2011-2012

  • Protes 2017-2018

  • Pemogokan umum 2018-2019

  • Protes 2019-2020

  • Protes kematian Mahsa Amini

  • Protes 2025-2026

Para pengkritiknya memandang Khamenei sebagai pemimpin otoriter yang bertanggung jawab atas represi, pembunuhan massal, dan berbagai ketidakadilan.

Wartawan, blogger, dan individu yang dianggap menghina pemimpin tertinggi sering diadili dengan tuduhan penistaan agama dan dijatuhi hukuman cambuk atau penjara.

Kebijakan Luar Negeri

Kebijakan luar negeri Khamenei berpusat pada Islamisme Syiah dan upaya mengekspor Revolusi Iran. Ia memainkan peran kunci dalam mengembangkan IRGC sebagai alat utama untuk kontrol domestik dan pengaruh regional.

Di bawah kepemimpinannya, Iran mendukung koalisi "Poros Perlawanan" di berbagai konflik:

  • Perang saudara Suriah

  • Perang di Irak

  • Perang saudara Yaman

  • Perang Gaza

  • Serta dukungan untuk Rusia dalam perang Rusia-Ukraina

Khamenei dikenal sebagai kritikus keras Israel dan Zionisme, serta mendukung perjuangan Palestina. Retorikanya kerap menyerukan penghancuran Israel dan menggunakan stereotip antisemitik.

Di bawah kepemimpinannya, Iran terlibat dalam perang proksi dengan Israel dan Arab Saudi, yang pada 2025-2026 meningkat menjadi konflik bersenjata selama 12 hari dan serangan berkelanjutan.

Program Nuklir dan Militer

Khamenei mendukung program nuklir Iran untuk penggunaan sipil, sambil mengeluarkan fatwa yang melarang produksi senjata pemusnah massal. Meskipun demikian, ia berperan penting dalam transformasi IRGC menjadi kekuatan militer yang dominan.

Karya dan Pemikiran

Sebagai seorang ulama, Khamenei diakui sebagai salah satu marja' Syiah terkemuka di dunia. Ia dikenal sebagai tokoh garis keras pragmatis yang menyingkirkan faksi kiri, ulama moderat, dan pembangkang politik, namun kadang melonggarkan pembatasan ketika stabilitas atau legitimasi rezim terancam.

Akhir Hidup

Pada 28 Februari 2026, Ali Khamenei gugur dalam serangan udara AS-Israel di Teheran, mengakhiri kepemimpinannya yang berlangsung lebih dari tiga setengah dekade.

Wafatnya menandai babak baru dalam sejarah Iran, dengan proses suksesi kepemimpinan yang harus segera dilakukan oleh Majelis Ahli sesuai konstitusi.

Tag Ali Khamenei Iran Amerika Serikat Israel