Gosip

Sejarah dan Kiprah Ponpes Lirboyo, Pondok 115 Tahun Kini Berkonflik dengan Trans7

14 Oktober 2025 | 18:01 WIB
Sejarah dan Kiprah Ponpes Lirboyo, Pondok 115 Tahun Kini Berkonflik dengan Trans7
Ponpes Lirboyo.

Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo di Kediri, Jawa Timur tengah menjadi perhatian publik usai tayangan kontroversial program “Xpose Uncensored” Trans7 pada 13 Oktober 2025.

rb-1

Tayangan tersebut menampilkan konten mengenai tradisi pemberian amplop dan gaya hidup mewah kiai, yang kemudian menuai kecaman dari pihak pesantren. Lirboyo menilai isi tayangan itu merendahkan martabat pondok pesantren serta para kiai, dan secara resmi menuntut Trans7 untuk meminta maaf.

Protes keras dilayangkan karena tayangan itu dianggap tidak sesuai dengan fakta dan menyesatkan persepsi publik tentang kehidupan pesantren. Dalam pernyataan resminya, pihak Lirboyo menegaskan bahwa pesantren mereka berdiri di atas nilai-nilai kesederhanaan, pengabdian, dan ilmu agama.

Baca Juga: Protes Kian Panas, Trans7 Akhirnya Minta Maaf pada Ponpes Lirboyo

rb-2

Kontroversi ini juga memicu dukungan dari berbagai kalangan santri serta alumni yang merasa nama pesantren mereka tercoreng.

Profil Pondok Pesantren Lirboyo

Baca Juga: Ini Narasi Provokatif Program Trans7 yang Bikin Ponpes Lirboyo Geram

Terlepas dari polemik yang terjadi, Pondok Pesantren Lirboyo tetap dikenal luas sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan terbesar di Indonesia. Berlokasi di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, pesantren ini menjadi pusat pendidikan agama yang berpengaruh, terutama di kalangan Nahdliyin.

Pesantren Lirboyo didirikan pada tahun 1910 M oleh K.H. Abdul Karim, seorang ulama besar yang dikenal karena ketekunannya dalam mengajar dan berdakwah. Sejak awal berdirinya, Lirboyo berkomitmen menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan pendekatan salaf yang khas.

Sebelum mendirikan pesantren, beliau sempat mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng milik sahabatnya, K.H. Hasyim Asy’ari, tempat keduanya sama-sama berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.

Dari pengalaman itu, K.H. Abdul Karim membawa semangat pendidikan yang berpadu antara ilmu, adab, dan pengabdian. Semangat ini pula yang diusung saat mendirikan Ponpes Lirboyo.

Setelah menikah dengan Nyai Khodijah binti K.H. Sholeh dari Banjarmlati, Kediri, K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo. Atas dorongan mertuanya, beliau mendirikan pondok sederhana untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.

Pondok Pesantren Lirboyo didirikan oleh K.H. Abdul Karim.Pondok Pesantren Lirboyo didirikan oleh K.H. Abdul Karim.

Santri pertama Pondok Pesantren Lirboyo berasal dari berbagai daerah, termasuk Madiun, Magelang, dan Kediri. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus meningkat seiring reputasi pesantren yang semakin dikenal luas.

Pada tahun 1913, K.H. Abdul Karim membangun Masjid Lawang Songo, yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembelajaran para santri hingga kini.

Sebagai pesantren salaf, Lirboyo menekankan pembelajaran kitab kuning atau kitab salaf, yang menjadi fondasi utama keilmuan Islam klasik. Sistem pengajarannya menitikberatkan pada pendalaman ilmu fiqih, tafsir, hadis, dan akhlak, disertai disiplin tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain bidang pendidikan, Lirboyo juga berperan aktif dalam sejarah perjuangan bangsa. Banyak santri dan kiai Lirboyo yang turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam Pertempuran 10 November di Surabaya.

Ponpes Lirboyo Masa Kini

Kini, kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo diteruskan oleh K.H. M. Anwar Manshur, cucu dari pendiri pesantren. Di bawah kepemimpinannya, Lirboyo terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf.

Pesantren ini juga memperluas bidang dakwah dan sosial, sekaligus tetap menjaga hubungan erat dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Keterikatan Lirboyo dengan NU bukan hanya dalam ideologi, tetapi juga dalam kontribusi nyata terhadap pengembangan pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Banyak tokoh besar NU yang merupakan alumni pesantren ini, menjadikannya salah satu pilar penting dalam jaringan pendidikan tradisional di Indonesia. Hingga kini, Pondok Pesantren Lirboyo tetap berdiri kokoh sebagai pusat studi Islam klasik yang berakar kuat pada tradisi salaf.

Di tengah derasnya arus modernisasi, pesantren ini tetap menjaga jati diri sebagai lembaga yang menanamkan nilai keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian. Kontroversi yang sempat mencuat tak mengubah citra Lirboyo sebagai salah satu pesantren legendaris dan berpengaruh di Indonesia.

Tag Pondok Pesantren Lirboyo Trans7 Ponpes Lirboyo Kediri