Penjual Es Kue Jadul Ngaku Dipukul dan Disuruh Minum Air Comberan oleh Oknum Aparat
Setelah heboh video interogasi dan klaim kepolisian bahwa produknya aman, kisah penjual es kue jadul, Suderajat, ternyata jauh lebih menyedihkan.
Di balik pernyataan resmi yang menyatakan barang dagangannya "layak konsumsi", pria asal Depok ini mengungkap derita dugaan penganiayaan fisik dan penyiksaan yang dialaminya saat diinterogasi oleh personel TNI dan polisi.
Saat ditemui di kediamannya, Suderajat dengan getir memperagakan dan menceritakan pengalaman traumatisnya.
Baca Juga: Nasib Miris Pedagang Es Kue Jadul, Semula Dikira Spon Ternyata Aparat Salah Tuduh
“Saya begini,” katanya sambil memperagakan posisi berdiri satu kaki, menunjukkan salah satu bentuk hukuman yang diterimanya.
Namun, itu bukanlah satu-satunya. Dengan suara lirih, ia menunjuk bahunya dan berkata, “Terus, ditonjok, disabet pakai selang, ditendang pakai sepatu sama tentara.”
Pengakuannya tak berhenti di situ. Ia juga mengungkap ancaman penyiksaan yang membuatnya ketakutan,
“Saya... mau diminumi air comberan, pakai ginian,” lanjutnya sambil memperagakan gerakan minum paksa.
Dua oknum aparat paksa pedagang es kue jadul untuk makan produknya yang dianggap dibuat dari spons. [TikTok]
Kasat Reskrim, AKBP Roby Heri Saputra, dalam pernyataannya hanya menyebutkan bahwa tim "bergerak cepat" melakukan pengecekan, mengamankan barang bukti, dan akhirnya memulangkan Suderajat setelah barang dagangannya dinyatakan aman.
Tidak ada satu pun pernyataan yang mengangkat atau menanggapi dugaan tindak kekerasan yang dialami pedagang tersebut.
Fokus pihak berwenang sepenuhnya pada pembuktian bahwa es kue tersebut tidak mengandung spon berbahaya, sebuah klaim yang kini sudah terpenuhi. Namun, keselamatan dan kehormatan Suderajat sebagai warga negara justru dipertanyakan.
Viralnya pengakuan Suderajat ini telah menggeser kemarahan publik. Isunya bukan lagi sekadar kesalahan identifikasi bahan makanan, yang sudah terbukti salah, melainkan dugaan pelanggaran berat prosedur hukum dan hak asasi manusia oleh aparat.
Suderajat penjual es kue jadul mengaku dianiaya oknum TNI. [TikTok/ceritahidu_kita]
Komentar warganet yang awalnya menyayangkan kelalaian pemeriksaan, kini berubah menjadi tuntutan pertanggungjawaban. Banyak yang menyerukan agar personel yang terlibat dalam insiden interogasi itu tidak hanya diminta meminta maaf, tetapi juga diusut dan diproses secara hukum sesuai dengan laporan penganiayaan yang diungkapkan korban.
“tlg di proses pelaku² itu jgn cuma mnt maaf saja soalnya bpk ini sudah di pukul,” tulis seorang netizen.
“visum, dan tuntut balik pak,” tulis lainnya.
“semua orang yg menganiaya usut tuntas jgn maen hakim aja blm tentu kesalahan nya jgn hanya minta maaf apa lagi udah ada penganiayaan,” sambar yang lain.
Sebelumnya diberitakan, Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Aiptu Ikhwan Mulyadi, sosok yang berada di dalam video viral menyampaikan penyesalan atas kekeliruannya dan meminta maaf kepada penjual es kue tersebut.
"Menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial," kata Ikhwan dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan Polres Metro Jakarta Pusat, Selasa (27/1).
Ikhwan mengaku terlalu cepat membuat kesimpulan lalu bertindak tanpa pikir panjang.
"Namun demikian, kami menyadari bahwa kami telah menyimpulkan terlalu cepat, tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, maupun Labfor Polri. Seharusnya proses klarifikasi dan verifikasi dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan informasi kepada masyarakat," tutur dia.
Ia meminta maaf kepada Sudrajat, pedagang es kue yang terdampak langsung oleh kejadian ini.
"Kami turut merasakan bagaimana situasi ini dapat mempengaruhi usaha dan kehidupan beliau sebagai pedagang kecil yang mencari nafkah untuk keluarga," ujarnya.
Ikhwan juga berjanji untuk lebih bijak lagi di kemudian hari.
"Ke depan, kami berkomitmen untuk lebih berhati-hati, selalu mengedepankan prosedur yang tepat, serta memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat telah melalui pemeriksaan dan verifikasi ilmiah.Kami tetap bertekad memberikan pelayanan terbaik, profesional, dan humanis," tutupnya.