Dosen Universitas Manado Diduga Sudah 10 Tahun Jadi Predator Seksual, Alumni Angkat Bicara!
Kasus tewasnya mahasiswi Universitas Manado, Anthonieta Evia Maria Mangolo (21) di kamar kos mencuri perhatian. Evia Maria Mangolo ditemukan tewas gantung diri di kamar kos dengan meninggalkan surat pengaduan adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosennya.
Pada isi surat yang ditinggalkan, Evia mengaku mendapatkan tindakan pelecehan seksual dari dosen yang bernama Danny A. Masinambow, Sp. M.Pd. Mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) itu mengaku mendapatkan tindakan pelecehan seksual di mobil sang dosen.
Dalam keterangannya, Evia mengaku mengalami trauma mendalam akibat insiden yang menimpanya. Pasalnya, di dosenmeminta Evia melakukan percakapan bernada seksualitas, tindakan tidak senonoh bahkan ada upaya ajakan untuk berciuman.
Baca Juga: Viral Ijazah Alumi Universitas Halu Oleo di PDDIKTI Berganti Nama, Kerap Alami Ini saat Lamar Kerja
Evia juga menuliskan tujuan dirinya meninggalkan surat tersebut agar pihak kampus memberikan sanksi yang setimpal kepada terduga pelaku.
"Tujuan pengaduan ini, melalui surat ini saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini. Kalau bisa kasih sanksi kepada mner Danny jangan dibiarkan orang seperti itu," Evia dilansir dari Threads @cmutiamohi pada Rabu, (31/12/2025).
Baca Juga: Mahasiswi Universitas Manado Akhiri Hidup Diduga Trauma Akibat Pelecehan Seksual, Tinggalkan Surat Pilu!
Benar saja, usai viral kasus kematian Evia, salah seorang alumni mahasiswi PGSD Universitas Manado, Wulandari Albarzanji turut angkat bicara. Lewat video yang dibagikannya di Instagram @wulandarii.albarzanji, ia menyebut dosen tersebut sudah lama melakukan aksinya di kampus.
"Saya Wulan, alumni PGSD Unima, berdiri bersama korban. Surat kronologi yang ditinggalkan almarhumah adalah bukti bahwa predator masih berkeliaran di kampus kita sejak satu dekade lalu.
Eva Maria Mangolo Mahasiswi Universitas Manado Akhiri Hidup [Sumber: Threads]
Stop bicara soal “nama baik kampus”. Nama baik kampus hanya bisa dijaga dengan membersihkan parasit di dalamnya!
Ayo rekan-rekan alumni, angkatan berapa pun kalian, jangan biarkan suara adik kita hilang ditelan bumi. Speak up! Kawal kasus ini sampai tuntas!
#JusticeForEvi #PGSDUnima #Unima #SpeakUp #SaveMahasiswa," tulis Wulandarii.albarzanji.
Ia juga mengungkap amarahnya usai mengetahui adanya kasus bundir yang dilakukan oleh mahasiswi Unima akibat dugaan pelecehan seksual.
"Halo semua, saya Wulan alumni PGSD Unima. Hari ini saya marah sekali. Kita dapat kabar ada mahasiswa Unima semester akhir nekat bunuh diri karena mengalami pelecehan seksual oleh dosen yang ada di PGSD Unima," ungkapnya.
Alumni Universitas Manado Angkat Bicara [Sumber: Instagram]
Tidak hanya itu, ia juga mengungkap kesaksian atas aksi tidak senonoh oknum dosen tersebut sudah terjadi 10 tahun lamanya.
"Ternyata, ini adalah sosok dosen yang sama dari kurang lebih 10 tahun lalu saya menjadi mahasiswa di sana, yang masih berkeliaran di sekitaran kampus. Sebelum mengakhiri hidupnya korban meninggalkan surat kronologis pelecehan yang si dosen yang namanya sama dengan yang sering kita dengar melakukan hal tersebut dari 10 tahun lalu," paparnya.
Ia pun berniat untuk membantu para korban tindakan tak senonoh dari oknum dosen tersebut.
"Kita ketahui bersama, saya yakin para alumni mengetahui jejak mner ini. Predator ini tidak bisa berada di lingkungan kampus lagi," ungkapnya.
Dengan tegas, Wulan mengajak para alumni untuk mengawal kasus ini dan tidak membiarkan oknum dosen tersebut tetap melenggang bebas.
"Kita sama-sama harus mengawal kasus ini. Kita harus sama-sama putus mata rantai ini karena sudah ada korban. Saya yakin mungkin teman-teman dulu ingin juga bersuara, tapi takut. Hari ini sudah ada korban adik kita yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Jangan lagi ada mahasiswa-mahasiswa seperti itu. Jangan lagi ada yang dilecehkan dengan berkedok nilai, paparnya kemudian.
Ia juga mengungkap keterlibatan para alumni dalam mengawal kasus yang menimpa Evia.
"Untuk para alumni PGSD yang kiranya mengalami hal serupa, ayo kita sama-sama berikan pernyataan, pengakuan. Sahabat-sahabat saya yang ada di Rayon Dewantara, PMII Minahasa itu sedang mengawal kasus ini dengan teman-teman LBH, teman-teman lembaga lain untuk usus tuntas dan proses si pelaku. Kita sebagai alumni nenunutun dengan tegas kepada pimpinan universitas untuk jangan tutup mata. Saya harap dengan pengakuan alumni bisa membantu adik-adik PGSD," pungkasnya.