Gosip

Biodata dan Agama Karen Brooks, Pengusaha Amerika Disebut Dekat Prabowo

22 Februari 2026 | 19:21 WIB
Biodata dan Agama Karen Brooks, Pengusaha Amerika Disebut Dekat Prabowo
Karen Brooks. [Instagram]

Nama Karen Brooks atau Karen B. Brooks mendadak ramai di pencarian Google, pada Minggu (22/2/2026). Namanya dicari menyusul tayangnya podcast Bocor Alus majalah Tempo yang tayang di YouTube Tempodotco. Siapa Karen Brooks?

Karen Brooks adalah mantan diplomat Amerika Serikat yang kini menjadi sorotan media Tanah Air setelah namanya dikaitkan dengan sejumlah proyek konservasi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Brooks disebut-sebut memiliki kedekatan dengan Presiden RI Prabowo Subianto, bahkan dilaporkan pernah menginap di kediaman Prabowo di Hambalang.

rb-1

"Karen Brooks ini orang asing di sekitar Prabowo yang sangat dekat dengan Prabowo dan pernah ketemu Prabowo di Hambalang. Bahkan informasinya nginep langsung di sana," kata Erwan Hermawan, wartawan Tempo di podcast Bocor Alus majalah Tempo yang tayang di YouTube Tempodotco, Minggu (22/2/2026).

Baca Juga: Hotman Paris Ditelpon Presiden Prabowo, Bahas Bisnis Beach Club Singgung Soal Narkoba

rb-2

Lahir dan dibesarkan di Eastern Long Island, Brooks menempuh pendidikan sarjana di Princeton University dan meraih gelar master dari Cornell University.

Ia menguasai beberapa bahasa Asia, termasuk Bahasa Indonesia, Jawa, Mandarin, dan Thai. Kemampuan berbahasa ini membantunya membangun jaringan luas di kawasan Asia Tenggara.

Karier Cemerlang di Pemerintahan AS

Baca Juga: Ibu-Ibu Berteori Tiap Bayi Pasti Punya Fase Wajah Mirip Pak Prabowo, Dokter Anak: Valid!

Karen Brooks. [Instagram]Karen Brooks. [Instagram]

Brooks memiliki rekam jejak panjang di dunia diplomasi dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia mengawali kariernya dengan mengajar di universitas serta terlibat dalam proyek-proyek pembangunan demokrasi dan resolusi konflik bersama USAID.

Kariernya di pemerintahan AS mencakup:

  • Masa Presiden Bill Clinton: Menjabat sebagai penasihat khusus Asisten Menteri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, serta memimpin portofolio Asia di staf perencana kebijakan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright

  • Masa Presiden George W. Bush: Menjabat sebagai Direktur Urusan Asia di Dewan Keamanan Nasional (NSC) Gedung Putih di bawah National Security Advisor Condoleezza Rice (2001-2004)

Selama bertugas di NSC, Brooks kerap dikirim ke Asia Tenggara untuk negosiasi sensitif, termasuk pertemuan rahasia dengan Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri, terkait upaya pencegahan serangan terorisme. Ia disebut memiliki hubungan personal dan profesional yang mendalam dengan Megawati.

Brooks juga terlibat dalam proses perdamaian di Aceh pada 2003 dan negosiasi bantuan kemanusiaan pasca-tsunami 2004 bersama Program Pangan Dunia PBB.

Jejak Karier di Sektor Swasta

Karen Brooks. [Instagram]Karen Brooks. [Instagram]

Setelah meninggalkan pemerintahan pada 2004, Brooks mendirikan perusahaan konsultan yang membantu perusahaan multinasional AS berekspansi di Asia.

Saat ini ia menjabat sebagai senior advisor untuk TPG Capital, perusahaan ekuitas swasta global, serta adjunct senior fellow untuk Asia di Council on Foreign Relations di New York.

Menariknya, Brooks juga bekerja dengan The Rise Fund, kendaraan investasi dampak sosial TPG yang melibatkan vokalis U2, Bono, sebagai anggota dewan. Ia juga tercatat pernah menjadi anggota dewan Humane Society International.

Kedekatan dengan Prabowo dan Kontroversi Proyek Way Kambas

Berdasarkan penelusuran Tempo, Brooks disebut memiliki kedekatan khusus dengan Prabowo Subianto. Ia dilaporkan pernah menginap di kediaman Prabowo di Hambalang dan melakukan lobi-lobi terkait konservasi di Taman Nasional Way Kambas.

"Nah, Karen Brooks ini kan sebenarnya orang Amerika ya dan dia beberapa tahun terakhir kemudian dekat dengan Prabowo. Seperti apa sih lobi-lobi dia ke Prabowo? Tadi sudah lu sebutin gitu kan pernah menginap di Hambalang gitu, ada lobi-lobi lain yang dia lancarkan," tanya Stefanus Pramono, wartawan Tempo di podcast Bocor Alus majalah Tempo.

"Jadi dalam pertemuan dengan Prabowo, Karen Brooks itu bercerita soal konservasi di Taman Nasional Way Kambas dan dia bilang bahwa ada obstacle untuk melakukan kerja-kerja konservasi terutama untuk perdagangan karbon. Karena kan duit dari perdagangan karbon itu nanti akan digunakan untuk konservasi di Taman Nasional Way Kambas,"  terang Erwan Hermawan.

Proyek yang Direncanakan

Di Taman Nasional Way Kambas, Brooks berencana mengembangkan dua jenis proyek:

  1. Wisata eksklusif – Mengadopsi model yang dikembangkan di Botswana, Afrika, dengan paket wisata bernilai 14.000 dolar AS per orang.

    "Wisata eksklusif itu seperti dia kembangkan di Afrika, di beberapa negara salah satunya di Botswana. Dia mengembangkan wisata eksklusif di mana nanti pengunjung itu dikenakan bayaran 14.000 Dolar. Dan paket wisatanya itu menginap di resort di dalam Taman Nasional Way Kambas nanti. Kemudian juga akan diajak keliling untuk melihat monyet, lalu kemudian gajah Sumatera, kemudian harimau dan juga satwa-satwa liar lah yang kira-kira seperti itu sehingga ada pengalaman yang berbeda sehingga dikasih tarif yang tinggi," terang Erwan Hermawan.

    Rencana ini mencakup pembangunan resort di dalam taman nasional serta pembangunan landasan helikopter atau pesawat kecil untuk mengangkut wisatawan.

    "Dampaknya banyak. Salah satunya nanti hewan akan kebisingan karena Karen Brooks akan membangun landasan pesawat di Taman Nasional Way Kambas. Helikopter ataupun pesawat kecil lah. Landasan ini untuk mengangkut penumpang-penumpang yang membayar mahal tadi untuk masuk ke dalam Taman Nasional Way Kambas. Ketika ada pesawat, tentu kan hewan yang liar itu akan terganggu dan akan bising. Mungkin juga akan ada polusi udara kali ya." lanjut Erwan.

  2. Perdagangan karbon – Melalui rehabilitasi hutan dan perlindungan kawasan, Brooks berencana menjual serapan karbon di pasar sukarela (voluntary market) internasional.

    "Perdagangan karbon itu adalah Karen Brooks itu nanti akan menanam pohon di sana, merehabilitasi hutan atau taman nasional yang rusak. Nah, pohonnya itu nanti akan menyerap karbon kan, akan menyerap CO2. Nah, serapannya itu yang dihitung. Jadi, namanya additionality-nya yang dihitung itu yang nanti akan dijual ke market di sana. Dikonversi ke saham ya, dikonversi ke nanti ada hitung-hitungannya dolar seperti itu. Ini berarti duit besar, sangat besar gitu," jelas Erwan.

Masalah Zonasi dan Perubahan Aturan

Karen Brooks Dan Menhut Raja Juli Antoni. [TikTok]Karen Brooks Dan Menhut Raja Juli Antoni. [TikTok]

Permasalahan muncul karena area yang menjadi target investasi Brooks ternyata berada di zona inti Taman Nasional Way Kambas, yang seharusnya tidak boleh dimanfaatkan untuk kegiatan komersial.

"Oke, kita juga sudah menelusuri jejaknya Karen Brooks ya. Kami sudah mengirim tim ke sana. Ke Way Kambas. Kemudian sampai ke daerah Wako masuk ke zona inti. Masuk ke zona inti. Wako itu zona inti di mana di daerah Wako itu akan dibangun penginapan untuk wisatawan yang akan nginep di sana," kata Stefanus Pramono.

"Emangnya boleh bangun di zona inti?" tanya Stefanus.

"Ya enggak boleh. Makanya itu yang mau diubah untuk mengakomodasi kepentingan Karen Brooks. Diubah menjadi apa? Zona pemanfaatan. Sehingga di dalam zona pemanfaatan diperbolehkan perdagangan karbon dan wisata eksklusif," jawab Erwan.

Dalam pertemuan dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada awal 2025, Brooks mengeluhkan bahwa ia akan menanggung beban berat jika harus merehabilitasi area rusak di zona inti dengan dananya sendiri tanpa ada insentif.

"Jadi di awal 2025 itu Karen Brooks ketemu Raja Juli Antoni di kantornya dan dia membahas soal konservasi di Taman Nasional Way Kambas dan juga menjelaskan hasil survei dia selama di Taman Nasional Way Kambas. Nah, menurut informasi dari sejumlah pejabat di Kementerian Kehutanan, Karen Brooks itu mengeluh bahwa area yang akan dia usahakan, akan dia incerlah itu ternyata masuk zona inti. Bukan masuk zona inti, tapi daerahnya itu sudah rusak. Jadi, perlu direhabilitasi," terang Erwan. 

"Nah, sehingga dia mengeluh bahwa kalau misalnya saya berinvestasi di sini lalu kemudian merehabilitasi area itu dengan uang sendiri itu rasanya berat gitu. Nah, dalam pertemuan itu muncullah ide soal perdagangan karbon. Perdagangan karbon untuk merehabilitasi, uangnya itu untuk merehabilitasi nanti di zona inti itu yang nanti akan jadi zona pemanfaatan yang jadi tempat resortnya dia nanti. Ya betul, resort dan dia betul," lanjut Erwan.

"Lalu kemudian si Raja Juli bilang, 'Aduh, Karen. Kamu ini bikin pusing saya karena harus banyak mengubah aturan. Selain zonasi kan harus mengubah Perpres 98 yang melarang perdagangan karbon di area konservasi,'" sambung Erwan.

Menurut laporan Tempo, lobi Brooks membuahkan hasil. Pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 yang mengubah Perpres 98/2021. Jika sebelumnya perdagangan karbon di area konservasi tidak diperbolehkan, aturan baru justru membuka peluang tersebut.

"Nah, obstacle-nya itu apa? Yaitu adalah Perpres 98 tahun 2021 di mana dalam aturan itu perdagangan karbon di area konservasi termasuk juga itu Taman Nasional itu tidak boleh sehingga kan perlu diubah. Lobi-lobinya itu berhasil. Berhasil karena Perpres 98 diubah menjadi Perpres 110 sehingga memungkinkan perdagangan karbon di area konservasi," kata Erwan.

"Oh, berarti perubahan aturan ini untuk menguntungkan segelintir orang saja?" tanya Stefanus Pramono

"Betul. Nah, dulu gua kira itu untuk mengakomodasi perdagangan karbon voluntary. Karena selama ini kan susah nih perdagang karbon secara voluntary ini secara sukarela ini. Ternyata ada udang di balik batu itu. Ternyata ada pengaruh Karen Brooks untuk mengubah aturan Perpres 98 ke 110," ujar Erwan. 

Ketika dimintai konfirmasi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menolak memberikan wawancara terkait pertemuannya dengan Brooks.

"Iya betul ya. Raja Juli Antoni (Menteri Kehutanan). Jadi kami sudah coba wawancara dengan Raja Juli Antoni ya. Eh tapi dia menolak ya," kata Stefanus.

Erwan Hermawan juga memaparkan potensi nilai ekonomi dari proyek perdagangan karbon yang direncanakan Brooks:

"Kalau dulu aturannya itu kalau di pasar voluntary itu 10 dolar per ton. Pasar voluntary ya di luar negeri. Nah, kalau di Indonesia belum tahu karena kan belum ada tarifnya. Kalau misalnya katakanlah misalnya 3 dolar aja per ton kalau di sana ada (potensi) 50 juta ton karbon. Nah, tinggal kali aja tiga misal ini ya kira-kira gitu," terang Erwan.

Dengan perhitungan kasar tersebut, potensi nilai perdagangan karbon di Way Kambas bisa mencapai 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,4 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar).

Publikasi dan Pemikiran

Sebagai pengamat kebijakan, Brooks aktif menulis dan berkomentar tentang politik Asia Tenggara di media internasional. Beberapa publikasinya antara lain:

  • "Indonesia's Election Exposes Growing Religious Divide" (CFR.org, 2019)

  • "Six Markets to Watch: Indonesia and the Philippines" (Foreign Affairs, 2014)

  • "Is Indonesia Bound for the BRICS?" (Foreign Affairs, 2011)

Aktivitas Filantropi

Setelah kehilangan ibunya akibat kanker otak pada 2003, Brooks melakukan serangkaian pendakian gunung untuk menggalang dana penelitian kanker.

Dana yang terkumpul disalurkan melalui American Association for Cancer Research dan National Brain Tumor Foundation. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota dewan Humane Society International.

Kehidupan Pribadi

Saat ini Brooks berdomisili di Aspen, Colorado. Berdasarkan akun Instagram pribadinya (@kbbaspen), ia memiliki beragam minat mulai dari investasi berdampak, keamanan nasional, isu Asia, konservasi, hingga kegiatan luar ruang seperti mendaki gunung, berkuda, ski, dan yoga.

Bio Instagram-nya menuliskan: "Impact investing. National security. Asia. Animals! Conservation. Philanthropy. Piano. Family. Mountain climbing. Horseback riding. Skiing. Yoga."

Tag Karen Brooks Prabowo