Bilang "Cukup Saya Saja yang WNI", Dwi Sasetyaningtyas Awardee LPDP Minta Maaf
Dwi Sasetyaningtyas akhirnya meminta maaf atas pernyataannya "cukup saya saja yang WNI, anakku jangan". Alumni penerima beasiswa prestisius Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang sebelumnya menjadi sasaran amuk warganet karena pernyataan kontroversialnya, resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka.
Keributan yang melibatkan perempuan yang akrab disapa Tyas ini bermula dari sebuah video perayaan keluarga yang viral pada Februari 2026.
Dalam rekaman tersebut, ia menunjukkan dokumen kewarganegaraan Inggris anak keduanya dengan penuh haru. Namun, satu kalimat yang meluncur dari mulutnya justru membakar emosi publik.
Baca Juga: Kronologi Kasus Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Padahal Terima Beasiswa LPDP
"Cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," katanya ketika itu.
Frasa "paspor kuat" dan "cukup saya saja yang WNI" sontak memicu gelombang kecaman. Publik menilai pernyataan itu sebagai bentuk pelecehan terhadap martabat paspor Indonesia.
Baca Juga: Biodata Mertua Dwi Sasetyaningtyas Dikuliti, Ternyata Eks Pejabat Syukur Iwantoro!
Apalagi, Tyas diketahui merupakan lulusan S2 di Delft University of Technology, Belanda, yang pendidikannya dibiayai penuh oleh LPDP, dana yang bersumber dari uang pajak rakyat.
Dwi Sasetyaningtyas akhirnya minta maaf karena bilang "cukup saya saja yang WNI, anak-anak janga". [TikTok]
Warganet pun menyerbu media sosialnya dengan tuduhan "lintah pajak" hingga "pengkhianat bangsa". Tyas yang semula bersikap defensif dengan membalas komentar dan membeberkan deretan kontribusinya bagi Indonesia, akhirnya mengambil langkah berbeda.
Permohonan Maaf di Bulan Ramadan
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di akun media sosialnya, Tyas menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan', dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut," tulisnya.
Tyas mengakui bahwa pernyataan tersebut lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadinya sebagai WNI terhadap berbagai kondisi yang ia rasakan. Namun, ia menegaskan bahwa kekecewaan itu tidak sepatutnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, apalagi menyangkut identitas kebangsaan.
Dwi Sasetyaningtyas akhirnya minta maaf karena bilang "cukup saya saja yang WNI, anak-anak janga". [TikTok]
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik," lanjutnya.
Dalam surat permohonan maafnya, Tyas juga mengapresiasi kritik dan masukan yang disampaikan secara konstruktif. Ia berkomitmen menjadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran untuk berkomunikasi lebih bijaksana, jernih, dan berempati di masa mendatang.
"Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan," pungkasnya.
Sebelumnya, Tyas sempat membeberkan berbagai kontribusinya bagi Indonesia selama sembilan tahun terakhir, termasuk mengembangkan bisnis lestari, menanam ribuan pohon bakau, memberikan pelatihan gratis pengolahan sampah organik, hingga membantu 200+ ibu rumah tangga berpenghasilan dari rumah.