Kronologi Kasus Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Padahal Terima Beasiswa LPDP
Sebuah vlog yang dibuat Dwi Sasetyaningtyas, alumnus beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjadi viral di media sosial. Dwi Sasetyaningtyas menjadi sasaran kemarahan publik setelah unggahannya dianggap merendahkan martabat paspor Indonesia.
Kronologi keributan ini bermula pada Februari 2026, saat Tyas menerima paket amplop berwarna cokelat dari Home Office Inggris. Dalam vlog itu, ia tampak emosional saat membuka dokumen kewarganegaraan anak keduanya.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku," ujar Tyas dalam rekaman tersebut.
Baca Juga: Link Tiara Kartika TikTok Dibagi-bagi Gratis, Jangan Mudah Tergiur!
Kebahagiaannya memuncak saat mengetahui bahwa sang buah hati resmi menjadi warga negara Inggris.
Namun, ungkapan kebahagiaan Tyas yang secara gamblang menyatakan bahwa dirinya memang mengupayakan status warga negara asing bagi anak-anaknya, justru jadi sumber malapetaka.
Baca Juga: Polisi Nyamar Jadi Pengamen, Buronan di Padang Berhasil Ditangkap Usai 6 Bulan Kabur
"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," tuturnya dalam video.
Kata "paspor kuat" dan frasa "cukup aku saja yang WNI" sontak menjadi pemantik kemarahan publik.
Dwi Sasetyaningtyas dirujak warganet karena sebut Paspor Indonesia lemah, padahal ia adalah penerima beasiswa LPDP. [Instagram]
Apalagi, publik mengetahui Tyas adalah lulusan Teknik Kimia ITB angkatan 2009 yang melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda (2015–2017) melalui pendanaan penuh LPDP — yang sumbernya berasal dari uang pajak rakyat.
Warganet langsung menyerbu kolom komentar dengan tuduhan keras. Ia dijuluki "lintah pajak", dianggap mengkhianati bangsa yang telah membiayai pendidikannya.
"Di balik privilese LPDP yang kamu terima, ada guru-guru bergaji kecil. Malu-maluin kalau akhirnya cuma ngejelekin negara sendiri," tulis seorang netizen.
Namun, Tyas tak tinggal diam. Ia membalas sejumlah komentar untuk membela diri.
"Bagian mana gue pake uang rakyat dan menguntungkan pribadi? Kalo ga ada bukti namanya fitnah. Udah gue data orang2 yang fitnah2 ini mau nama lo gue masukin juga?" jawabnya pada satu akun.
Dwi Sasetyaningtyas dirujak warganet karena sebut Paspor Indonesia lemah, padahal ia adalah penerima beasiswa LPDP. [Instagram]
Pernyataan itu justru memicu gelombang kritik baru. Netizen menyoroti ironi bahwa sang suami juga menempuh pendidikan S2 hingga S3 dengan dana LPDP.
"Sampe kapanpun laki lu akan nafkahi kalian dari ilmu yg berhasil dia dpt dari duit negara ini ning. Jgn jd kacang lupa kulit," cibir lainnya.
Tak sedikit pula yang menyentil soal etika.
"Kamu dan keluarga berhak bahagia dengan pilihanmu mbak. Tapi bahagia gak perlu menginjak2 orang lain. Km kan pinter ya, coba diliat lagi videomu yg viral itu. Ada statement yg 'tidak pintar' gak? Pasti ada," ujar warganet lain.
Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas
Di tengah badai kritik, Tyas membuat unggahan panjang untuk meluruskan asumsi. Ia menegaskan bahwa dirinya masih WNI, begitu pula suami dan kedua anaknya.
Anak keduanya memiliki hak dwikewarganegaraan karena lahir di Inggris, yang sah secara hukum kedua negara.
"Yessss, saya masih bayar pajak di Indonesia seperti kalian semua 😁🙏🏻," tulisnya.
Tyas pun membeberkan kontribusinya bagi Indonesia sejak lulus kuliah tahun 2017, antara lain:
-
Business Model Framework untuk pengembangan energi surya di Pulau Sumba yang diunduh gratis berbagai negara.
-
Menciptakan lapangan kerja melalui bisnis lestari yang bekerja sama dengan petani, pengrajin, dan UMKM lokal.
-
Solusi sampah plastik dan organik melalui gerakan #Kawankompos dan pelatihan gratis.
-
Menanam lebih dari 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir Indonesia.
-
Membantu 200+ ibu rumah tangga berpenghasilan dari rumah.
-
Menulis buku gaya hidup lestari untuk anak-anak dan dewasa.
-
Donasi bencana dan pembangunan sekolah lestari di Nusa Tenggara Timur.
"Itu semua hal yang saya bangun & kerjakan sejak saya lulus kuliah (2017) hingga hari ini, yaitu selama 9 tahun. Masih jauh dari sempurna karena semua saya kerjakan dengan sumber daya, uang, tenaga dan segala keterbatasan yang saya miliki," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, perdebatan masih terus bergulir. Sebagian publik mengapresiasi kontribusi nyata Tyas, namun tak sedikit pula yang tetap menyayangkan pernyataannya yang dianggap merendahkan identitas bangsa.