YouTube Bikin Tekor! Farida Nurhan Ungkap Pemasukan Tak Seimbang dengan Pengeluaran
Nama Farida Nurhan belakangan ini menjadi sorotan publik setelah mengumumkan rencana untuk menjual channel YouTube miliknya dengan harga mencapai Rp10 miliar.
Keputusan ini ternyata bukan tanpa alasan. Wanita yang akrab disapa Omay tersebut mengaku bahwa penghasilannya dari YouTube kini mengalami penurunan drastis.
Hal ini terungkap saat Farida menjadi bintang tamu di podcast milik Deddy Corbuzier. Dalam obrolan tersebut, Deddy sempat menanyakan penghasilan Farida dari berbagai platform.
Baca Juga: Kronologi Tersebarnya Video Viral 3 Menit 24 Detik Arohi Mim, Ternyata Ini Isinya
"Boleh tahu nggak kalau misalnya dari Facebook berapa dapetnya?" tanya Deddy.
Farida pun menjawab, "Sekarang itu saya bisa dapat 150-160 juta."
Farida Nurhan Jual Channel Youtube Sumber Instagram
Baca Juga: Farida Nurhan Sakit Apa? Demam dan Kejang Hingga Masuk IGD
Namun saat ditanya mengenai pendapatannya dari YouTube, Farida mengaku jumlahnya jauh lebih kecil. "Terakhir nih ya, jangan nangis ya om, 18 juta," ucap Omay.
Jumlah tersebut menurutnya tidak cukup untuk menutupi biaya produksi konten dan menggaji karyawan. "Nggak cukup banget, setiap saya bikin konten YouTube paling tidak 1,2 juta lah. Untuk videografer, editor, thumbnail, belum makan-makannya, belum kalau saya bagi-bagi sama ibu-ibu yang datang," jelas Farida.
Farida menambahkan, ia biasanya bisa memproduksi hingga 8 video dalam satu minggu, yang otomatis membutuhkan modal besar. Sayangnya, penghasilan dari YouTube tidak sebanding dengan pengeluaran tersebut.
"Ya itu berlangsung selama 18 bulan ini om, jadi itu kenapa saya bertahan sebenarnya itu adalah sebagai ucapan terima kasih saya kepada YouTube yang membuat saya kaya raya. Tapi lama kelamaan ini kayak nggak ada perubahan," ungkapnya.
Farida Nurhan Di Podcast Deddy Corbuzier Youtube
Akibat situasi tersebut, Farida kini lebih fokus membuat konten di platform lain seperti Facebook dan TikTok, yang menurutnya lebih menguntungkan.
Keputusan ini menjadi bukti bahwa di dunia digital, kreator konten harus selalu menyesuaikan strategi agar tetap produktif dan berkelanjutan.