Siapa Pemilik Alfamart yang Dituding Cak Imin Bunuh UMKM? Ternyata Ini Orangnya
Kritik soal keberadaan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret di desa-desa kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, suara kritik datang dari pemerintah.
Menteri Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, secara terbuka menyebut kedua jaringan minimarket tersebut sebagai ancaman bagi perekonomian rakyat kecil.
Dalam pernyataannya mengenai upaya memajukan ekonomi desa, Cak Imin dengan tegas menyatakan soal Alfamart dan Indomaret yang mengancam kelangsungan Usaka Menengah, Kecil dan Mikro.
Baca Juga: Misteri Pria yang Sakiti Dina Oktaviani Kasir Alfamart Semasa Hidup, Beri Pengalaman Tak Terlupakan
“Kita tahu betul retail-retail raksasa yang masuk ke kampung-kampung kita, bahkan membunuh ekonomi rakyat dan membunuh para pelaku UMKM, terus terang raksasa ritel ini bernama Indomaret dan Alfamart yang betul-betul membawa ancaman dan bahaya bagi tumbuhnya Usaha Kecil dan Menengah kita,” ujar Cak Imin.
Pernyataan ini memantik perdebatan panjang antara efisiensi ritel modern dan nasib warung kelontong tradisional. Namun, di balik perusahaan raksasa yang sering kita lihat di sudut-sudut jalan dan desa ini, siapakah sebenarnya pemiliknya? Artikel ini akan mengulik sosok di balik Alfamart, salah satu ritel yang disebut oleh Cak Imin.
Sosok Pendiri Alfamart, Djoko Susanto
Baca Juga: Ayah Pembunuh Dina Oktaviani Beri Pengakuan Mengejutkan soal Heryanto: Dia Itu...
Djoko Susanto. [Forbes]
Pria di balik kesuksesan jaringan Alfamart adalah Djoko Susanto. Lahir pada 9 Februari 1950 dengan nama Tionghoa Kwok Kwie Fo, Djoko adalah seorang pengusaha Indonesia yang namanya konsisten menghiasi daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Pada 2014, Forbes bahkan menempatkannya pada urutan ke-10.
Perjalanan hidup Djoko Susanto adalah cerita klasik tentang kerja keras dan ketekunan yang dimulai dari nol. Ia adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara. Pendidikannya di sekolah Tionghoa terpaksa terputus di tengah jalan karena kebijakan pemerintah saat itu yang menutup sekolah-sekolah Tionghoa. Pada usia 17 tahun, ia mulai mengelola usaha keluarga, sebuah kios sederhana bernama Toko Sumber Bahagia di Pasar Arjuna, Jakarta.
Dari kios inilah bakat bisnisnya mulai terasah. Awalnya, kiosnya menjual berbagai bahan pokok, lalu beralih fokus ke penjualan rokok. Kesuksesannya dalam berjualan rokok menarik perhatian salah satu raja bisnis Indonesia, Putera Sampoerna.
Awal Mula Kerjasama dan Lahirnya "Alfa"
Djoko Susanto. [TikTok/KickAndy]
Kerjasama antara Djoko Susanto dan Putera Sampoerna dimulai pada awal 1980-an. Pada 1985, mereka bersepakat membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta. Cikal bakal Alfamart yang sesungguhnya lahir pada 27 Agustus 1989 dengan nama Alfa Toko Gudang Rabat, sebuah supermarket. Nama "Alfa" sengaja dipilih karena bersifat netral, tidak mengandung nama salah satu pendirinya.
Perkembangan bisnis pun berlanjut. Ketika Philip Morris International membeli saham Putera Sampoerna, perusahaan rokok internasional itu tidak ingin berkecimpung di bisnis non-inti. Akhirnya, PMI menjual 70% saham HM Sampoerna di bidang ritel kepada Djoko Susanto. Inilah momen krusial di mana kendali penuh bisnis ritel beralih ke tangan Djoko.
Membangun Raksasa Ritel Sumber Alfaria Trijaya
Di bawah kendalinya, Djoko Susanto mengembangkan bisnis ritel melalui PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Perusahaan inilah yang kini menjalankan ribuan gerai dengan berbagai merek, seperti:
-
Alfamart: Minimarket andalan yang tersebar di mana-mana.
-
Alfamidi: Konsep minimarket untuk area perumahan yang lebih spesifik.
-
Alfa Express: Serta gerai-gerai lain hasil kerjasama waralaba seperti Lawson.
Tidak semua usahanya berjalan mulus. Alfa Supermarket, yang merupakan cikal bakal usahanya, akhirnya harus dijual kepada Carrefour karena kalah bersaing. Keputusan ini justru membawanya untuk fokus total pada bisnis minimarket, sebuah langkah strategis yang terbukti sangat sukses. Kini, Alfamart dan variannya telah memiliki puluhan ribu gerai yang menjamur di seluruh Indonesia, termasuk hingga ke pelosok desa—fenomena yang kini disorot oleh Cak Imin.
Kontribusi di Bidang Pendidikan
Di luar bisnis, Djoko Susanto juga aktif dalam dunia pendidikan. Melalui Yayasan Pendidikan Bunda Mulia yang didirikannya pada 1986, ia mendirikan Universitas Bunda Mulia dan Sekolah Bunda Mulia. Yayasan ini telah berkontribusi besar dalam mencetak generasi penerus bangsa dengan kampus yang berlokasi di Jakarta Utara dan Alam Sutera, Tangerang Selatan.