Roby Tremonti Cemas Efek Broken Strings: Kalau Saya Dibakar Gimana?
Kepada MNC TV, Roby Tremonti mengungkap kekhawatirannya menyusul viralnya buku "Broken Strings". Pria berusia 45 tahun itu tak lagi sekadar meminta agar masa lalunya tidak disenggol, tetapi menyuarakan kecemasan mendalam akan keselamatan diri dan keluarganya, serta berniat melindungi nama baiknya yang menurutnya telah tercoreng.
Roby menekankan pernyataannya pada reputasinya.
"Saya tekankan lagi, once for all, saya cuma pengin nama baik saya," ujarnya.
Baca Juga: Roby Tremonti Soal Dituduh Pelaku Child Grooming: Hati-hati, Saya Nggak Mundur!
Ia lalu menyebut di usianya yang ke-45 ini, ia berharap bisa hidup sehat hingga 90 tahun. Dalam pernyataan yang terkesan acak, Roby menyinggung soal penglihatannya yang menurutnya sudah menurun.
"Dari saya mata masih sehat. Saya sekarang 'tolong mah kacamata' (meminta diambilkan kacamata oleh sang istri yang tak terlihat di kamera)... sekarang sudah plus 1,5," katanya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia kini sudah sulit membaca tanpa kacamata.
Baca Juga: Roby Tremonti Memelas pada Aurelie: Jangan Senggol Lagi, Kamu Kan Lagi Hamil
Roby Tremonti khawatir efek Broken Strings pada keluarganya. [YouTube/MNC Starpro]
Bagian paling mengejutkan dari pernyataannya adalah ketika Roby menyebut kemungkinan konflik berbasis agama. Sebagai penganut Katolik, ia tampak khawatir buku Aurelie akan memancing ketegangan.
"Saya tidak mau apa sih memancing kegaduhan umat beragama, terutama agama Katolik, mempertanyakan ini karena saya mengeluarkan bukti ini enggak ada main-main," tutur Roby dengan nada serius.
Roby kemudian menyampaikan alasan utama membuat pernyataan tersebut, yakni soal keselamatan orang-orang terdekatnya.
Roby Tremonti khawatir efek Broken Strings pada keluarganya. [YouTube/MNC Starpro]
"Karena apa? Ancaman ke keluarga saya sangat besar. Kesalahpahaman ini... kalau saya dibakar gimana? Keluarga saya gimana? Anak saya gimana?" serunya, menggambarkan skenario terburuk yang ia khawatirkan.
Pernyataan ini mengungkap tingkat tekanan dan ketakutan yang ia rasakan di tengah sorotan publik, di mana ia merasa dirinya dan keluarganya bisa menjadi target amukam massa akibat narasi yang beredar.