Habib Jafar Jawab Tudingan Syahadat Ulang Soal Ucapan Natal
Debat tahunan mengenai hukum seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani kembali mencuat di ruang publik. Fenomena ini seolah menjadi siklus berulang setiap akhir tahun, memicu diskusi panas di berbagai platform media sosial.
Di tengah riuh rendah pro dan kontra tersebut, pendakwah milenial Husein Ja'far Al Hadar, atau yang akrab disapa Habib Jafar, turut memberikan pandangannya. Sosok yang dikenal dekat dengan anak muda ini mencoba mengurai ketegangan yang sering terjadi di kolom komentar media sosial.
Habib Jafar secara spesifik menyoroti respons ekstrem yang kerap dilontarkan oleh sebagian netizen terhadap mereka yang memilih untuk mengucapkan selamat Natal. Respons tersebut tak jarang bernada menghakimi hingga menyentuh ranah keimanan seseorang.
Baca Juga: Deddy Corbuzier dan Habib Jafar Syok Usai Onad Ditangkap, Begini Nasib Podcast Login
Dalam penjelasannya, Habib Jafar menirukan gaya bicara netizen yang bersikap kontra keras. Ia menyentil fenomena di mana ucapan selamat Natal dianggap sebagai pelanggaran berat yang membatalkan keislaman seseorang.
"Lu ngucapin Selamat Natal? Haram tuh. Syahadat ulang lu," ujar Habib Jafar.
Baca Juga: Ortu Gen Z Ajak Bayi 1 Bulan Mandi Bola, Warganet: Setara Go Block-nya
Lebih lanjut, ia juga menyinggung adanya sindiran-sindiran yang ditujukan kepada kelompok yang memperbolehkan ucapan tersebut. Seringkali, perbedaan pandangan fikih ini justru dijadikan ajang untuk saling merendahkan pemahaman agama satu sama lain.
Habib Jafar [Sumber: Instagram]
Ia mencontohkan bagaimana seseorang bisa dengan mudah dilabeli atau disindir hanya karena mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan ucapan selamat Natal. Hal ini menunjukkan adanya polarisasi yang cukup tajam di kalangan masyarakat.
Namun, alih-alih ikut memperkeruh suasana dengan berdebat soal dalil, Habib Jafar menawarkan perspektif tentang keberagaman ekspresi dalam bertoleransi. Ia menekankan bahwa sikap toleransi tidak bisa diseragamkan dalam satu bentuk saja.
Sang Habib menegaskan bahwa dirinya memiliki cara tersendiri dalam menjaga hubungan baik dengan pemeluk agama lain, tanpa harus terjebak dalam polemik verbal yang memecah belah.
"Ya sudah, meskipun kita berbeda nih, tapi kita bisa tetep bersama," ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi penegas bahwa perbedaan teologis maupun cara pandang fikih seharusnya tidak menjadi penghalang kerukunan sosial.
Secara menarik, Habib Jafar menggunakan analogi yang sangat relevan dengan Generasi Z dan Milenial, yakni istilah love language atau bahasa kasih. Menurutnya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan rasa hormat dan toleransinya.
Habib Jafar [Sumber: Youtube]
"Lagian gua juga toleran kok, cuma cara gua berbeda aja sama lu. Kayak love language kita tuh beda aja sih," jelasnya.
Ia menjabarkan bahwa bentuk toleransi bisa dimanifestasikan melalui tindakan nyata, bukan sekadar retorika ucapan. Ada banyak saluran lain untuk menunjukkan rasa persaudaraan sesama anak bangsa.
Habib Jafar sendiri mengaku lebih memilih pendekatan non-verbal dalam momen perayaan agama lain. Ia mencontohkan sikap ramah dan berbagi kebahagiaan fisik sebagai alternatif yang ia pilih.
"Kalau gua lebih ke berbagi senyum, berbagi hadiah juga sih," pungkasnya.
Sikap ini diharapkan dapat meredam agresivitas netizen yang kerap menuntut pembuktian keimanan atau "syahadat ulang" hanya karena perbedaan pandangan dalam masalah furu'iyah (cabang agama) yang memang memiliki keragaman pendapat di kalangan ulama.