Film

Dampak Perang K-Netz vs SEAblings ke Konsumsi Drakor dan Drachin

19 Februari 2026 | 14:01 WIB
Dampak Perang K-Netz vs SEAblings ke Konsumsi Drakor dan Drachin
Drachin Speed and Love dan Drakor Lovely Runner yang populer. (iQIYI/tvN)

Perseteruan warganet Korea (K-Netz) dan netizen Asia Tenggara yang dijuluki SEAblings memicu perdebatan panas di media sosial. Konflik ini dinilai berpotensi memengaruhi konsumsi drama Korea (drakor) hingga membuka ruang bagi drama China (drachin) di kawasan Asia Tenggara.

rb-1

Awalnya, konflik dipicu perang komentar di media sosial yang menyerempet isu stereotip, rasisme, hingga standar kecantikan. Sejumlah komentar bernada merendahkan terhadap negara Asia Tenggara memicu solidaritas warganet kawasan ini.

Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya, Anang Sujoko, menilai situasi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Mengingat Asia Tenggara selama ini menjadi pasar besar bagi industri hiburan Korea Selatan.

Baca Juga: Solidaritas SEAblings! Kronologi Huru-hara Netizen Korea vs Asia Tenggara Memanas

rb-2

Perang K-Netz vs SEAbling di media sosial X.Perang K-Netz vs SEAbling di media sosial X.

“Sangat memungkinkan potensi itu terjadi. Dengan perilaku-perilaku k-net itu justru menurut saya akan memunculkan kontraproduktif terhadap industri hiburan mereka dan budaya K-pop yang telah mereka bangun dalam waktu yang sangat lama,” katanya.

Menurutnya, komentar bernada rasis dan merendahkan bisa memicu sentimen kolektif. “Budaya atau tindakan-tindakan k-net yang cenderung merendahkan dan kemudian rasis inilah yang menurut saya akan memunculkan posisi k-net sebagai musuh bersama. Apalagi ketika komentar-komentar itu mengarah ke Asia Tenggara yang dianggap rendah, fisik tidak bagus bahkan disebut miskin,” katanya.

Baca Juga: Deretan Drama China Baru Siap Tayang Akhir Februari, Modern hingga Kostum Wuxia

Istilah SEAblings kemudian muncul sebagai simbol solidaritas warganet Asia Tenggara. Dengan internet yang menghapus batas geografis, sentimen ini berpotensi berkembang menjadi gerakan opini publik yang lebih luas.

“Kalau sudah pada posisi itu maka kemungkinan pakan terjadi penolakan terhadap aktivitas mereka yang masuk ke Filipina, Indonesia, Vietnam dan Thailand. Selama ini K-pop hidup dari market Asia Tenggara, tetapi ketika kawasan ini dianggap buruk maka pasar mereka bisa menolak dan itu akan kontraproduktif terhadap K-pop yang selama ini beredar,” bebernya.

Di tengah ketegangan tersebut, pergeseran tontonan mulai terasa. Drama China atau drachin disebut-sebut semakin digemari, bahkan oleh sejumlah figur publik. Di media sosial, sejumlah warganet terang-terangan mengaku beralih.

“Dracin lebih seru, apalagi kini lagi demam Giok kekaisaran naga,” tulis Syisyilin.

Shine On Me, salah satu drachin populer di 2026. (Wetv)Shine On Me, salah satu drachin populer di 2026. (Wetv)

“Drakor meredup, Dracin dong,” timpal onlyme_yaa. “Suddah lama gak fangirling in k-pop, sekarang nonton drakor juga males. Lebih betah nontonin drachin sama anime 😅," komentar mbanik.

Meski begitu, ada pula warganet yang mencoba meredakan situasi dengan nada reflektif. “Sangat mustahil bagi non-Asia Tenggara untuk memancing kemarahan Asia Tenggara, karena kita semua terlalu sering saling membuat kesal,” tulis seorang pengguna.

Sementara yang lain berkelakar, “Orang Indonesia memang tidak ingin menang debat, hanya ingin membuat kesal saja.” Konflik ini pun menjadi pengingat bahwa dinamika digital dapat berdampak nyata pada citra industri hiburan dan pola konsumsi budaya di tingkat global.

Tag Netizen SEAblings K-Netz Drama Korea Drama China Drachin