Blak-blakan! Cellos Akui 'Dosa' di Byon 6, Ungkap Nasib Rematch Ronald vs Putra
CEO Byon Combat, Yoshua Marcellos atau yang akrab disapa Cellos, akhirnya buka suara secara terbuka mengenai rentetan kontroversi yang mewarnai gelaran Byon Combat 6. Dalam tayangan podcast di kanal YouTube "Curhat Bang Denny Sumargo" yang dirilis baru-baru ini, Cellos memberikan klarifikasi mendalam terkait isu keberpihakan wasit hingga hasil pertandingan yang dinilai janggal oleh publik.
Dalam kesempatan tersebut, Cellos secara jantan mengakui adanya kelalaian dalam manajemen teknis pertandingan, khususnya terkait pemilihan perangkat pertandingan.
Sorotan utama tertuju pada keputusan menggunakan seluruh juri dan wasit asal Indonesia untuk laga internasional yang mempertemukan petarung Indonesia melawan Malaysia. Hal ini diakuinya menjadi pemicu utama keraguan publik terhadap netralitas penilaian.
Baca Juga: Bukan Perselingkuhan, Ini Sebab Utama Perceraian Menurut dr. Aisyah Dahlan
Match Byon 6 Ronald Siahaan Vs Putra [Instagram]
"Gua akui ada kesalahan gua di situ. Gua terlalu fokus pada promosi acara dan menyerahkan urusan teknis sepenuhnya ke badan sanksi (UCC). Harusnya gua insist (bersikeras) untuk mendatangkan juri internasional demi menjaga netralitas, apalagi ini laga Indonesia lawan Malaysia," ujar Cellos di hadapan Denny Sumargo.
Salah satu topik terpanas yang dibahas adalah partai antara Ronald Mastrana Siahaan melawan Putra Abdullah. Pertandingan ini berakhir dengan keputusan Technical Draw yang memicu kericuhan di atas ring. Cellos menjelaskan bahwa akar masalah bermula dari gerakan sikut vertikal (12-6 elbow) yang dilakukan Putra, sebuah teknik yang dilarang dalam aturan kickboxing yang mereka gunakan.
Baca Juga: Satria Mahathir Tantang Denny Sumargo Adu Tinju, Densu Bakal Diobok-obok!
Terkait desakan publik mengapa Putra tidak langsung didiskualifikasi, Cellos memberikan penjelasan teknis. Menurutnya, wasit menilai pelanggaran tersebut belum masuk kategori kesengajaan berulang yang fatal. Oleh karena itu, sanksi yang diberikan adalah pengurangan poin keras, bukan diskualifikasi langsung, meskipun opsi diskualifikasi sebenarnya sah secara regulasi jika wasit memandang perlu.
Kekacauan semakin memuncak akibat miskomunikasi fatal antara supervisor pertandingan, ring announcer, dan wasit. Cellos memaparkan bahwa supervisor sebenarnya sudah memutuskan hasil draw, namun ring announcer menyebutnya sebagai "judgement round". Hal ini diperparah dengan wasit yang sempat salah mengangkat tangan Ronald sebagai pemenang sebelum dikoreksi.
"Itu ada kesalahan di tiga pos. Supervisor bilang draw, announcer bilang beda, wasit angkat tangan Ronald. Itu yang bikin tim Ronald merasa sudah menang dan penonton bingung," jelas Cellos.
Pertandingan sendiri akhirnya dihentikan karena Ronald mengalami cedera serius akibat serangan ilegal tersebut dan tidak bisa melanjutkan laga.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional, Cellos memastikan solusi bagi kedua petarung tersebut. Ia menegaskan akan menggelar Immediate Rematch (tarung ulang langsung) antara Ronald dan Putra pada ajang Byon Combat berikutnya. Hal ini dimungkinkan karena kedua petarung masih terikat kontrak eksklusif dengan promotor.
Match Byon 6 Ronald Siahaan Vs Putra [Instagram]
Selain laga Ronald vs Putra, Cellos juga menanggapi kontroversi kemenangan Felmi Sumaehe atas petarung Malaysia, Tsunami. Banyak penonton menilai Tsunami tampil lebih dominan, namun juri memberikan kemenangan Split Decision untuk Felmi. Cellos menjelaskan bahwa sistem penilaian tinju dihitung per ronde, bukan berdasarkan akumulasi visual dominasi semata.
"Secara pribadi gua melihat dominasi Tsunami, tapi gua harus menghormati keputusan juri yang menilai per ronde. Ada ronde di mana Felmi dianggap mencuri poin, meski secara visual Tsunami terlihat lebih agresif," tambah Cellos.
Dalam podcast tersebut, Cellos juga meluruskan hubungannya dengan Paris Pernandes, CEO HSS. Ia menegaskan bahwa rivalitas "CEO vs CEO" yang panas di media sosial hanyalah dinamika profesional dan permintaan pasar. Secara personal, ia mengaku tidak memiliki masalah pribadi dengan Paris dan tetap menjaga hubungan baik.
Pria yang identik dengan kepala plontos ini mengaku terpukul dengan besarnya gelombang kritik yang datang pasca-event. Ia menyebut insiden di Byon Combat 6 sebagai "uang sekolah" yang sangat mahal. Seluruh kritik, hujatan, hingga video analisis dari netizen telah ia tonton dan jadikan bahan evaluasi internal.
"Gua download semua video kritik, gua tonton satu-satu. Gua gak mau menyalahkan orang lain, ini tanggung jawab gua sebagai wajah dari Byon. Gua merasa 'kecolongan' di saat gua merasa persiapan sudah matang," ungkap Cellos dengan nada serius.
Cellos berkomitmen menjadikan insiden ini sebagai study case (studi kasus) agar kesalahan serupa tidak terulang di masa depan. Ia berjanji akan memperbaiki sistem pengawasan wasit dan juri, termasuk memastikan kehadiran juri netral dari luar negeri untuk pertandingan berskala internasional.
Di akhir pembicaraan, Cellos meminta maaf kepada seluruh penggemar olahraga tarung di Indonesia dan Malaysia yang merasa kecewa. Ia berharap publik masih memberikan kesempatan bagi Byon Combat untuk membuktikan perbaikan kualitas pada gelaran-gelaran mendatang.
Sebagai informasi tambahan, Byon Combat 6 yang digelar beberapa waktu lalu mengusung tema persahabatan serumpun Indonesia-Malaysia. Ajang ini menghadirkan belasan partai pertarungan yang melibatkan selebritas, influencer, hingga atlet profesional dari kedua negara, namun berakhir dengan polemik panjang terkait keputusan wasit.