Atlet Indonesia Andi Jerni Mengaku Dicurangi di Semifinal Kickboxing SEA Games 2025
Kabar mengejutkan datang dari ajang SEA Games 2025 di Thailand. Atlet kickboxing andalan Indonesia, Andi Mesyara Jerni atau yang akrab disapa Andi Jerni, mendadak viral di media sosial setelah mengunggah video curahan hatinya pasca pertandingan semifinal.
Dalam video yang diunggah tak lama setelah ia turun dari ring, Andi Jerni tampak menangis tersedu-sedu. Dengan mengenakan seragam timnas, ia meluapkan kekecewaannya terhadap sistem penilaian dan kepemimpinan wasit yang dinilai sangat merugikan pihak Indonesia.
Andi Jerni mengungkapkan bahwa dugaan kecurangan sudah terasa bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ia menyebutkan bahwa manajer tim kickboxing Indonesia telah dideportasi sehari sebelumnya oleh Asian Kickboxing Confederation, sehingga tim Indonesia kehilangan sosok yang memiliki wewenang untuk mengajukan protes resmi di lapangan.
Baca Juga: Terkuak! Netizen Duga ini Profesi Asli Santi Penjual Jamu Cantik Bandung yang Viral
Masuk ke teknis pertandingan, Andi memaparkan kejanggalan yang terjadi di ronde pertama. Saat itu, ia mengklaim sudah unggul poin 4-3 atas lawannya. Ia merasa sudah bermain aman dan menjaga jarak, namun wasit tiba-tiba menghentikan laga dan memaksanya untuk terus menyerang (fight).
"Saya bingung kenapa saya harus menyerang. Saya punya strategi sendiri. Di kickboxing, kalau kami hanya bergerak ke kanan atau ke kiri itu tidak masalah," ungkap Andi Jerni.
Baca Juga: Tangis Wanita Lihat Bugatti Berlumpur Saat Banjir, Asli atau AI?
Poin kedua yang menjadi sorotan Andi adalah masalah pencatatan skor. Ia merasakan adanya ketidakwajaran saat terjadi point bersamaan. Menurut pengakuannya, poin miliknya tidak bertambah (stuck), sementara poin lawan justru terus naik secara misterius.
Andi Jerni [Sumber: Instagram]
Kecurigaan semakin menguat pada poin ketiga terkait manajemen waktu pertandingan. Andi menyebutkan bahwa ketika wasit meneriakkan aba-aba "stop", waktu pertandingan di papan skor tidak berhenti sama sekali dan terus berjalan, yang mana hal ini sangat merugikan atlet yang sedang mengejar ketertinggalan atau mempertahankan posisi.
Insiden spesifik juga terjadi saat jari Andi keluar dari sarung tinju (glove). Wasit menghentikan pertandingan untuk membenarkan posisi glove, namun Andi heran karena momen tersebut justru membuang waktu efektif pertandingan tanpa adanya kompensasi waktu (stop clock).
Lebih lanjut, Andi menjelaskan momen krusial saat lawannya berusaha menendang. Andi mengklaim telah melakukan teknik blocking (tangkisan) dengan sempurna. Namun, juri justru memberikan poin masuk kepada lawan, padahal tendangan tersebut jelas-jelas tertahan oleh tangannya.
"Saya nge-blok dan itu jelas sekali saya nge-blok, tapi diambil dan dikasih poin kepada lawanku," jelasnya.
Andi menambahkan bahwa setelah menendang dan ditangkis, lawannya justru terjatuh (drop), namun anehnya skor tetap diberikan kepada lawan.
Puncak kekecewaan terjadi saat jeda menuju ronde berikutnya. Saat Andi sedang duduk beristirahat di sudut ring, ia melihat ke arah papan skor. Ia terkejut bukan main karena skor lawan tiba-tiba melonjak drastis tanpa adanya aktivitas pertandingan.
"Poin (skor) aku ada 4. Tiba-tiba skor lawan naik ke 7. Bayangkan, dari 4 ke 7," tutur Andi.
Andi Jerni [Sumber: Instagram]
Ia menegaskan bahwa lawannya tidak pernah melakukan tendangan telak ke arah badan atau kepala yang bisa membenarkan lonjakan poin tersebut.
Andi merasa tidak berdaya karena absennya manajer tim akibat deportasi membuat tim Indonesia tidak bisa melakukan protes keras di tempat. Ia dan tim pelatih sempat mencoba protes mengenai waktu yang tidak berhenti, namun panitia berdalih bahwa waktu pertandingan sudah habis.
Merasa dicurangi secara sistematis dan politis, Andi Jerni akhirnya memilih untuk memviralkan kejadian ini. Ia meminta bantuan warganet Indonesia untuk menyebarkan video pengakuannya agar terdengar hingga ke telinga para pemangku kebijakan olahraga di Tanah Air.
Dalam penutup videonya, Andi secara khusus meminta perhatian dari Komite Olimpiade Indonesia (NOC) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Ia berharap ada tindak lanjut nyata atas perlakuan tidak adil yang menimpa atlet kickboxing Indonesia di Thailand.
Video ini kini telah menyebar luas di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Dukungan dari netizen Indonesia pun mulai mengalir deras di kolom komentar, menuntut keadilan bagi para atlet yang sedang berjuang membawa nama harum bangsa di kancah internasional.