Daftar Survival Kit Pemadaman Listrik 7 Hari, Pascaviral Pernyataan Dharma Pongrekun
Imbauan darurat yang disampaikan oleh mantan Komisaris Jenderal Polisi, Dharma Pongrekun, untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi darurat selama tujuh hari, menjadi viral dan memicu perbincangan luas di media sosial.
Pernyataan yang menyinggung potensi pemadaman listrik total, gangguan air bersih, hingga kelangkaan pangan ini, ditanggapi serius oleh banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan dan influencer kesiapsiagaan.
“Mulai sekarang, persiapkan itu sebelum didadak,” tegas Dharma dalam video yang beredar, mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dan mulai menyiapkan kebutuhan dasar secara mandiri.
Baca Juga: Viral, Yai Mim Koar-koar Ngaku Jadi Rektor UNISMA Usai Mundur dari UIN Malang
Apa Saja yang Harus Disiapkan?
Merespons imbauan tersebut, sejumlah pakar dan praktisi kesiapsiagaan berbagi daftar prioritas dan barang yang perlu disiapkan. Konten edukatif dari dr. Herlin Ramadhanti, seorang dokter yang aktif mengedukasi publik, menjadi salah satu rujukan yang banyak dibagikan. Berikut adalah ringkasan poin-poin krusial berdasarkan prioritas hidup saat krisis:
Survival kit pemadaman listrik 7 hari versi dr Herlin Ramadhanti. [Instagram]
Baca Juga: Roby Tremonti Diduga Sewa Buzzer untuk Serang Aurelie, Netizen Spill Isi DM sang Aktor
1. Air Bersih: Prioritas Utama
Tanpa air, manusia hanya dapat bertahan beberapa hari. Persiapan meliputi:
-
Stok air minum: Minimal 3-7 hari, dengan perhitungan 2-3 liter per orang per hari.
-
Penyimpanan: Gunakan galon, jerigen, atau wadah food grade lainnya.
-
Sumber alternatif: Siapkan cara menampung air hujan (ember, terpal) dan memiliki filter atau saringan darurat.
-
Penggunaan bijak: Air non-minum untuk sanitasi. Rebus air sebelum diminum jika memungkinkan.
2. Pangan Tahan Lama Tanpa Listrik
Survival kit pemadaman listrik 7 hari versi dr Herlin Ramadhanti. [Instagram]
Ketergantungan pada kulkas harus dikurangi dengan menyimpan:
-
Sumber karbohidrat: Beras, jagung, singkong kering, sorgum.
-
Sumber protein: Kacang-kacangan, umbi-umbian, abon, ikan asin minim garam, telur asin.
-
Bahan pengawet alami: Madu, kurma, minyak zaitun atau VCO (Virgin Coconut Oil), gula kelapa, garam.
-
Teknik pengawetan: Keringkan (jemur), asinkan, atau fermentasi (tempe, tape, sayur fermentasi).
-
Alat masak alternatif: Kompor kayu/arang, rocket stove, tungku tanah liat, atau solar cooker.
3. Sumber Cahaya dan Energi
Pemadaman listrik tidak harus berarti gelap total. Siapkan:
-
Lampu tenaga surya: Panel surya kecil yang bisa dijemur di siang hari.
-
Power bank panel surya: Untuk mengisi daya ponsel atau perangkat komunikasi.
-
Sumber cahaya tradisional: Lilin dan korek api manual sebagai cadangan.
-
Korek api elektrik yang bisa di-charge.
4. Informasi Tanpa Internet
Akses informasi adalah kunci mencegah kepanikan.
-
Radio baterai/portable: Untuk mendapatkan siaran berita resmi.
-
Buku fisik: Terutama tentang pertanian dasar, kesehatan darurat, dan survival.
-
Catatan manual: Agenda atau buku tulis untuk mencatat informasi penting. “Ikatlah ilmu dengan tulisan,” tulis dr. Herlin.
5. Keamanan dan Kesehatan
Situasi krisis dapat meningkatkan risiko keamanan dan masalah kesehatan.
-
Keamanan: Kunci rumah dengan baik, tidak memamerkan stok, membangun relasi baik dengan tetangga, dan merencanakan sistem ronda jika memungkinkan.
-
Kesehatan (P3K dan obat):
-
Kotak P3K lengkap (perban, plester, betadine, alkohol swab).
-
Oralit buatan sendiri.
-
Termometer manual.
-
Tanaman Obat Keluarga (TOGA) seperti jahe, kunyit, kencur, dan sereh.
-
Eco enzyme untuk pembersih dan antiseptik alami.
-
6. Kebersihan dan Sanitasi
Menjaga kebersihan mencegah wabah penyakit.
-
Stok sabun batang alami dan biji lerak untuk deterjen.
-
Pisahkan dan kelola sampah: Komposkan sampah organik untuk membuat pupuk atau eco enzyme.
Kesiapan Mental: Kunci Utama Bertahan
Baik Dharma Pongrekun maupun dr. Herlin menekankan bahwa persiapan mental sama pentingnya dengan persiapan fisik. “Tenang = bertahan lebih lama,” tulis dr. Herlin. Keluarga perlu sepakat untuk tidak panik, saling membantu, dan fokus bertahan hari demi hari.
Kedua tokoh juga memperingatkan kesalahan fatal saat krisis: menghabiskan air di hari pertama, panik dan keluar tanpa rencana, mengandalkan gadget sepenuhnya, serta hanya menunggu bantuan tanpa persiapan mandiri.
Antara Kesiapsiagaan dan Kehawatiran Berlebihan
Viralnya topik ini merefleksikan meningkatnya kesadaran masyarakat akan ketidakpastian global, meskipun juga memicu debat. Di satu sisi, para pakar kesiapsiagaan bencana selalu menyarankan setiap keluarga memiliki cadangan kebutuhan dasar untuk minimal 3-7 hari, terlepas dari ada atau tidaknya ancaman krisis besar. Di sisi lain, pesan yang disampaikan perlu disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan kepanikan dan hoarding yang justru mengganggu stok normal.
Intinya, imbauan ini berfungsi sebagai pengingat keras untuk membangun kemandirian dan ketahanan keluarga dalam menghadapi segala bentuk keadaan darurat, dari bencana alam hingga gangguan infrastruktur. Seperti kata Dharma Pongrekun, persiapan adalah tindakan bijak, karena “tidak ada yang bisa kita percaya, kecuali dirimu, keluargamu, dan Tuhan yang kau percayai” dalam momen-momen kritis.